Bahaya Perokok Pasif Pada Dewasa, Anak & Bayi

Kebiasaan merokok tidak hanya merugikan perokok sendiri. Namun juga membahayakan orang-orang di sekitar perokok yang disebut perokok pasif.

Apalagi saat merokok sebagian besar asap dikeluarkan dan merusak kualitas udara di sekitar. Menurut penelitian asap rokok yang dihembuskan dapat bertahan di udara bebas selama 2,5 jam. Di dalam ruangan asap dan residu rokok bahkan bisa menempel hingga 3 tahun.




Bahaya Asap Rokok Orang Lain

Asap rokok berbahaya karena mengandung lebih dari 7000 zat berbahaya yang 50 diantaranya karsinogenik (menyebabkan kanker). Secara langsung terpapar asap rokok bisa membuat mual, pusing dan iritasi pada mata. Dalam jangka panjang terpapar asap rokok akan meningkatkan risiko kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan impotensi.

Ketika merokok, perokok memproduksi dua jenis asap yaitu; pertama, asap utama dari pangkal batang rokok yang dihirup perokok,  dan ; kedua, asap dari ujung rokok yang dihasilkan langsung dari pembakaran rokok.

Perokok pasif terpapar asap pembuangan dan asap rokok langsung dan terpaksa menghirup lebih banyak nikotin dan tar yang dikeluarkan oleh perokok aktif. Tak hanya itu, perokok pasif juga menghirup lebih banyak karbon monoksida yang mengandung ammonia dan cadmium dalam jumlah sangat tinggi. Karbon monoksida juga mengandung gas beracun dan hidrogen sianida yang bisa mematikan

Menurut dr. Widyastuti Soerojo dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) hanya 25 persen zat berbahaya dalam rokok yang masuk ke tubuh perokok, sedangkan 75 persennya sisanya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di sekelilingnya.

Banyaknya jumlah perokok aktif, maka setiap orang berisiko menjadi perokok pasif. Indonesia yang memiliki lebih dari 90 juta perokok akan membuat setiap orang berisiko terpapar asap rokok orang lain. Bukan hanya di tempat umum, paparan asap rokok bisa terjadi di dalam rumah.

WHO melaporkan di dunia setap tahun 600.000 orang meninggal karena menjadi perokok pasif. Data GATS tahun 2010 menemukan  92 juta penduduk Indonesia terpapar asap rokok orang lain baik di dalam rumah dan di tempat umum. Data GYTS tahun 2014 menemukan bahwa  57,3% remaja Indonesia (berusia 13-15 tahun) terpapar asap rokok di dalam rumah dan 60,1% terpapar di tempat umum.

Baca juga  Bahaya Merokok Terhadap Kesuburan

Risiko bagi Perokok Pasif

Perokok pasif yang menghirup asap rokok secara terus menerus mengalami risiko yang sama dengan perokok aktif.  Anak-anak dan perempuan adalah kelompok yang hidup bersama perokok yang merokok sembarangan di dalam rumah paling rentan menjadi korban.

Diantara contoh yang bisa dirujuk adalah kisah Ibu Eike yang bukan perokok tapi harus mengalami penderitaan karena bergaul dengan perokok.

 

Berikut beberapa risiko yang bisa dialami perokok pasif

Pada orang dewasa

  • Perokok pasif berisiko menderita jantung koroner yang bisa menyebabkan serangan jantung, nyeri dada dan gagal jantung. Beberapa penelitian menyimpulkan perokok pasif dapat meningkatkan tingkat kematian akibat jantung koroner di Amerika Serikat sebesar 20% sampai 70%.
  • Perokok pasif juga berpeluang terkena kanker paru-paru 20 sampai 30 persen. Risikonya lebih besar jika ia tinggal bersama dengan seorang perokok aktif karena terpapar asap rokok setiap hari.
  • 30 menit terpapar asap rokok dapat mempengaruhi pembuluh darah dalam mengatur aliran darah  sama dengan yang terlihat pada orang yang merokok.
  • Dalam jangka panjang perokok pasif dapat mengalami aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah).

Pada Perempuan

  • Ibu hamil yang menjadi perokok pasif berisiko tinggi mengalami gangguan pada janin, keguguran, bayi lahir mati dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR).
  • Bayi yang mengalami berat lahir rendah akan mengalami risiko lebih besar mengalami penyakit janin dan diabetes tipe 2 saat mereka dewasa.
  • Asap rokok juga bisa memperbesar risiko komplikasi saat anda hamil dan melahirkan.

Pada anak-anak

Karena tubuhnya masih dalam masa perkembangan, bayi dan anak-anak sangat rentan menjadi korban perokok pasif. Beberapa risiko yang bisa dialami karena paparan asap rokok orang lain adalah sebagai berikut :

  • Anak-anak yang menghirup asap rokok lebih berisiko mengalami asthma, pilek, infeksi telinga dan pernapasan, alergi, meningitis, dan batuk.
  • Mengalami gangguan infeksi saluran pernapasan bawah seperti bronchitis dan pneumonia
  • Mengalami gejala pernafasan seperti batuk-batuk, keluar dahak, sesak napas dan napas pendek. Riset menyatakan 150.000 – 300.000 kasus saluran gangguan pernpasan pada anak terkait dengan paparan asap rokok orang lain.
  • Anak juga berisiko mengalami sindroma kematian mendadak atau SIDS (sudden infant death syndrome)
  • Lebih banyak mengalami infeksi telingan disbanding anak lain yang tidak terpapar asap rokok orang lain (mereka juga lebih rentan mengalami kekekringan cairan telingan karena mengalami banyak infeksi).
  • Perokok pasif pada anak juga bisa mengganggu stabilitas belajar dan mempengaruhi prestasi di kelas.
  • Yang tidak kalah penting, anak yang hidup dengan perokok juga cenderung akan menjadi perokok di saat dewasa. Melihat perokok akan membuat dia menganggap kebiasaan tersebut sebagai suatu hal yang wajar.
Baca juga  5 Bahaya dan Efek Samping Vapor (Rokok Elektrik) Yang Perlu Anda Tahu!!

Mitos : Merokok mati, tidak merokok mati, mending merokok sampai mati

Ada beberapa ahli yang menyimpulkan bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif. Alasannya karena konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok perokok tidak terfilter.

Sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung rokok yang dihisap. Sehingga ada anggapan daripada menjadi perokok pasif lebih baik jadi perokok aktif sekalian toh “Merokok mati, tidak merokok mati, mending merokok sampai mati”.

Namun anggapan ini tidak sepenuhnya bisa diterima. Karena mengesampingkan faktor adiksi dan kesukarelaan. Perokok pasif memang bisa mengalami konsekuensi yang berat jika dia terperangkap secara terus menerus dalam dimana ia terpaksa harus menghirup asap rokok orang lain. Tapi ia mengalami itu dalam keterpaksaan. Dan karena faktor ini, Perokok pasif tidak bisa menikmati paparan asap rokok orang lain yang diterimanya dan kecil kemungkinan untuk menjadi ketagihan.

Lain halnya dengan perokok aktif, ia menghirup asap rokok sebagai bentuk rekreasi dan kebutuhan pemenuhan asupan nikotin (sakau nikotin). Sehingga faktor adiksi dan sukarela ini bisa mendorong konsumsinya bertambah secara terus menerus. Perokok yang pada awalnya cukup dengan menghabiskan 2 atau 3 batang dalam sehari, konsumsinya bisa meningkat menjadi satu atau dua bungkus bahkan lebih dalam jangka waktu selanjutnya.

Inilah resep yang jitu untuk membuktikan bahaya merokok, konsumsi yang konsisten bahkan meningkat dalam jangka waktu yang lama. Sehingga meskipun angka gangguan kesehatan atau kematian para perokok pasif cukup tinggi, perokok aktif tetap lebih berisiko mengalami kerugian-kerugian tersebut.

Bagaimana supaya terhindar menjadi perokok pasif?

Ditengah-tengah lingkungan yang sangat permisif terhadap perilaku merokok seperti saat ini, para perokok pasif harus bersikap lebih aktif untuk melindungi dirinya. Ciptakan lingkungan yang bebas asap rokok sebanyak mungkin di tempat pribadi ataupun lingkungan sekitar. Beberapa langkah ini dilakukan agar tidak menjadi korban paparan asap rokok orang lain:

  • Di rumah: Bebaskan rumah dari asbak dan pasang tanda dilarang merokok di dalam rumah. Jangan perbolehkan orang lain merokok di dalam rumah Anda. Jika ada tamu ataupun anggota keluarga yang merokok, persilahkan mereka merokok di luar. Menciptakan rumah bebas asap rokok adalah hak anda atas kesehatan.
  • Di taman dan tempat umum. Biasakan meminta perokok dengan sopan untuk tidak merokok di dkat kita. Di tempat umum biasanya ada peraturan yang mengatur kawasan tanpa rokok. Jika perokok tidak menerima laporkan kepada pengelola gedung atau anda menjauh agar tidak menghirup asapnya.
  • Di restoran dan hotel: Pilihlah restoran ataupun hotel yang bebas asap rokok, begitu juga tempat-tempat rekreasi. Di Indonesia sudah ada UU dan peraturan yang menjamin tempat-tempat tersebut agar bebas asap rokok.
  • Di kendaraan: Jadikan kendaraan anda bebas asap rokok. Jika ada penumpang yang ingin merokok, berhentilah di rest area untuk merokok di luar kendaraan Anda
  • Di tempat kerja: Mintalah manajemen kantor untuk memberlakukan peraturan dilarang merokok. Tempat kerja adalah tempat kedua setelah rumah yang banyak dikunjungi. Karenanya tempat kerja yang bebas Asap rokok sangat penting untuk kesehatan anda.
  • Dalam pergaulan Sehari-hari: sampaikan pesan-pesan kesehatan soal rokok, dukunglah upaya social untuk memperketat peraturan soal rokok di media social.
Baca juga  Rokok Sebagai Pintu Gerbang Narkoba

Itulah beberapa contoh upaya yang bisa anda lakukan agar terhindar dari menjadi perokok pasif. Lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok adalah hak semua orang. Sehingga seharusnya para non perokok yang lebih dilindungi dari haknya untuk sehat, dan bukan sebaliknya. Bagaimana menurut anda?

image credit dari Duc Digital

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.