No Smoking

Cara Mengendalikan Konsumsi Rokok

No Smoking

Kita sudah tahu bahwa masalah rokok di Indonesia masih berat. Meskipun beberapa peraturan baru sudah dibuat, namun pengaruhnya masih belum berhasil menurunkan jumlah perokok atau konsumsi rokok. Tentu proses pengendalian konsumsi rokok memerlukan waktu yang panjang, bahkan bisa sampai berpuluh tahun. Atau bisa juga karena ada yang kurang dalam upaya pengendalian konsumsi rokok selama ini.

Atau kita bisa belajar dari Negara lain yang sudah berhasil melakukan pengendalian konsumsi rokok. Karena konsumsi rokok adalah masalah yang dihadapi oleh banyak Negara dan di banyak tempat. Sebagian Negara berhasil melakukan pengendalian sementara Negara lain masih jalan di tempat. Apa dan bagaimana pengendalian konsumsi rokok bisa berjalan dengan baik mari kita bincang dalam tulisan ini.

Konsep Supply and Demand

Suatu barang tidak akan laku dijual jika tidak ada permintaan dari masyarakat. Pun begitu meski ada permintaan dari masyarakat proses konsumsinya akan terganggung jika pasokan tidak lancar. Permintaan masyarakat terhadap tembakau selalu tinggi karena ia mengandung nikotin yang menyebabkan kecanduan. Permintaan terhadap rokok akan tetap tinggi jika akses mendapatkannya mudah, harga murah apalagi didukung dengan iklan dan promosi dimana-mana.

Rokok adalah barang konsumsi yang legal. Meski legal namun rokok barang yang tidak normal karena konsumsinya berbahaya dan menimbulkan kecanduan. Dalam pengendalian rokok maka pengaturan harus dilakukan dari kedua sisi yaitu dari sisi pasokan dan permintaan.




Supply dan Demand adalah satu konsep yang saling menyatu karena keduanya saling mempengaruhi. Dalam konsep penanggulangan penyakit berlaku juga pendekatan supply dan demand. Jika hanya salah satu yang dilakukan maka pengendalian akan berjalan di tempat dan tidak efektif.

Konsep Pengendalian Rokok

Upaya pengendalian konsumsi rokok sejatinya sudah berumur sangat lama, sama lamanya dengan usia pertama kali rokok atau tembakau pertama kali ditemukan. Seperti kita tahu dalam sejarahnya tembakau dan produk-produknya pada awalnya mengalami pasang surut bahkan penolakan dari masyarakat, hingga saat ini.

Baca juga  6 Pilihan Cara Berhenti Merokok Bagi Perokok dan Ibu Hamil

Namun keuntungan ekonomi yang besar ditambah fakta bahwa ia menyebabkan kecanduan menjadikan rokok sebagai salah satu komoditas paling popular di sepanjang sejarah.

Upaya pengendalian konsumsi rokok sudah dilakukan saat orang-orang pertama kali menemukan tembakau pada abad 18 di Amerika. Sehingga dalam perjalanannya sudah banyak ditemukan cara yang efektif dalam mengendalikan konsumsi rokok.

Berbagai cara ini bahkan sudah dipahami sebagai satu konsep kebijakan yang harus dilakukan secara komprehensif, tidak setengah-setengah, agar membawa efek. Cara ini terdiri dari pengendalian dari sisi produksi (pasokan) maupun dari sisi konsumsi (permintaan). Secara umum beberapa cara ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pengurangan Pasokan (Supply Reduction)

Supply reduction adalah intervensi dari sisi hulu. Produksi tembakau tidak akan berkembang jika pasokannya berkurang. Dalam segi penurunan pasokan beberapa intervensi terbukti ampuh sebagai berikut:

  1. Mendorong Pengurangan Produksi Daun Tembakau

Tembakau adalah jenis tanaman semusim. Artinya ia hanya tumbuh pada musim tertentu yaitu musim panas atau musim kemarau. Tembakau tidak membutuhkan banyak air unuk tumbuh dan hanya bisa tumbuh dengan baik pada cuaca dan daerah panas. JIka cuaca berubah tidak menentu, misalnya curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya, maka banyak petani tembakau yang merugi dan gagal panen.

Pengurangan produksi tembakau bisa terjadi dengan proses yang didesain. Kar dalam banyak penelitian ditemukan data bahwa banyak petani tembakau yang tidak mendapatkan cukup keuntungan dan ingin beralih ke tanaman lain. Mereka harus dibantu untuk alih tanam atau beralih ke komoditas lain.

  1. Mendorong Alih Tanam Tembakau

Alih tanam tembakau adalah proses petani melakukan perubahan jenis komoditas dari tembakau ke komoditas pertanian lain yang lebih menguntungkan. Meski dari segi harga daun tembakau itu relative tinggi dibanding tanaman lain, namun biaya yang diperlukan untuk bertani tembakau sangat tinggi dan membutuhkan waktu yang lama. Petani lebih sering rugi kerugian daripada untung.

Baca juga  8 Waktu Yang Tepat Untuk Berhenti Merokok

Petani tembakau mengalami situasi yang sulit terkait karena bagi sebagian, kondisi tanah tidak cukup subur untuk ditanami tanaman lain yang tidak kuat panas. Namun menanam tembakau juga tidak memberikan keuntungan ekonomi yang tinggi.

Di beberapa Negara lain isu ini direspon oleh pemerintah dengan memberikan bantuan kepada petani tembakau untuk beralih ke komoditas lain. Program alih tanam ini bisa berbentuk subsidi pupuk dan bibit tanaman alternative, bantuan pemasaran produk selain tembakau, hingga kontrak penjualan untuk tanaman alternatif.

Untuk beralih tanam ke komoditas lain memang memerlukan bantuan dari pemerintah karena petani harus menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan teknisnya dalam proses cocok tanam komoditas baru. Di Indonesia beberapa petani dan kelompok tani sudah berhasil melakukan alih tanam seperti yang terjadi di Deles dan Magelang sebagaimana diceritakan dalam link ini.

  1. Diversifikasi Produk Tembakau selain untuk Rokok

Diversifikasi adalah mendorong penggunaan tembakau untuk selain rokok dan produk tembakau membahayakan lainnya. Sebagai tumbuhan, Tembakau bisa digunakan untuk banyak hal selain untuk rokok. Diantaranya tembakau bisa digunakan sebagai pestisida organik yang kemampuannya sangat baik dalam membasmi hama.

Secara sederhana anda bisa bisa mencoba dirumah tips berikut ini. anda kumpulkan puntung rokok bekas, didiamkan dalam air selama sehari malam dan kemudian cairannya disiramkan ke tanaman maka tanaman akan terbebas dari hama perusak.

Tembakau juga bisa digunakan sebagai bahan parfum atau bahan baku kimia untuk diolah menjadi bahan obat. Tantangannya adalah industri tembakau selain rokok ini masih belum banyak. Di Indonesia, lebih dari 97% tembakau digunakan sebagai baku rokok. Sehingga upaya diversifikasi produk tembakau adalah perjuangan yang masih sangat panjang.

Baca juga  Liga 1 dan ISC Bukti Olahraga Tidak Perlu Sponsor Rokok

Demand Reduction

Intervensi lain bisa bisa juga dilakukan dari sisi konsumsi (permintaan). Pengalaman dari berbagai negara lain, beberapa peraturan yang bisa dilakukan untuk mengurangi konsumsi rokok diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Menaikkan Harga Rokok

Menaikkan harga rokok diakui sebagai salah satu peraturan soal rokok yang sangat efektif. Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa sebagian besar perokok adalah kelompok ekonomi menengah ke bawah yang sangat terpengaruh oleh kenaikan harga. Namun agar efektif harga yang ditetapkan juga harus bisa mempengaruhi affordabilitas (keterjangkauan) membeli rokok.

Penelitian dari LDFEUI menemukan bahwa harga rokok di Indonesia sangat murah karena masih sangat terjangkau. Di Indonesia masih bisa ditemukan harga rokok 500 rupiah per batang. Harga ini masih sangat terjangkau oleh penduduk kalangan miskin sekalipun. Bahkan harga ini masih terjangkau uang saku anak SD. Harga psikologis yang disarankan adalah 50-60 ribu per bungkus.

Di luar negeri seperti di Singapura dan Amerika Serikat harga rokok bisa mencapai 100 – 150 ribu rupiah per bungkus. Merk rokok yang sama dijual di Indonesia seharga 10-15 ribu. Maka perlu didorong untuk menaikkan harga rokok agar tidak terjangkau dan konsumsinya bisa menurun.

  1. Larangan Merokok di Tempat-tempat Umum

Larangan merokok di tempat umum mendorong orang mengurangi konsumsi rokok. Ada tiga fungsi diberlakukannya larangan merokok di tempat umum yaitu sebagai pendidikan, perlindungan dan juga denormalisasi. Sebagai pendidikan larangan merokok mendorong agar perokok dan non perokok mengetahui pembatasan di ruang publik. Pembatasan ini juga berfungsi untuk menyampaikan kepada perokok pemula bahwa merokok tidak bisa dilakukan dengan sembarangan.

Sebagai perlindungan, larangan merokok di tempat umum melindungi non perokok dari paparan asap rokok orang lain. Karena asap rokok bisa menyebar kemana saja dan membahayakan perokok serta orang-orang di sekitarnya. Meskipun wujudnya tidak terlihat tapi partikel asap rokok menyebar di ruangan yang dipakai untuk merokok.

Fungsi ketiga larangan merokok di tempat umum adalah sebagai upaya denormalisasi, yaitu untuk menunjukkan bahwa perilaku merokok adalah kebiasaan yang tidak normal. Merokok adalah perilaku yang tidak baik dan membahayakan diri dan orang sekitarnya. Upaya ketiga ini sangat penting apalagi dalam konteks Indonesia, dimana masih banyak yang beranggapan merokok sebagai sesuatu yang normal bahkan bagian dari tradisi dan etika pergaulan.

  1. Edukasi dan Iklan Layanan Masyarakat

Iklan layanan masyarakat adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi perilaku merokok masyarakat. Upaya edukasi kepada masyarakat memerlukan upaya yang maksimal karena industry rokok juga melakukan hal yang sama.

Wabah rokok memang berbeda dengan masalah kesehatan lain. Karena penyebab penyakit (vektor) masalah rokok adalah industri rokok yang bisa melakukan promosi atau kegiatan marketing. Sangat penting menyampaikan informasi yang betul ke masyarakat. Karena informasi dari industry rokok sudah tentu mengandung bias dan pembohongan. Industri selalu menampilkan kesan merokok tidak berbahaya dan mengaitkan dengan citra positif seperti keberanian, kejantanan dan gaya hidup.

Iklan layanan masyarakat bisa dilakukan di media-media mainstream seperti di televisi, radio, internet atau media luar ruang (baligo). Namun proses edukasi juga bisa dilakukan adalah dengan mewajibkan peringatan kesehatan di bungkus rokok. Kebijakan yang terakhir ini dilakukan di banyak Negara. Selain murah karena tidak mengeluarkan biaya, namun juga efektif karena sudah nempel di bungkus rokok. Dan yang melihat adalah mereka yang membeli atau akan merokok.

Iklan layanan masyarakat di bungkus rokok juga bisa mencegah perokok pemula dari memulai merokok. Tentunya hal ini bisa efektif bila dilakukan dengan jelas misalnya dengan menggunakan gambar bahaya merokok atau disebut dengan peringatan kesehatan bergambar.

  1. Larangan Promosi dan Iklan Rokok

Iklan adalah adalah sumber utama penyebaran konsumsi rokok. Pelarangan Iklan, Promosi dan Sponsor rokok sangat penting untuk pengurangan konsumsi rokok. Jika nyamuk menyebarkan malaria dengan gigitan, atau AIDS menular melalui hubungan seks yang tidak aman, maka merokok menyebar melalui promosi, iklan dan sponsor.

Target promosi industry biasanya anak-anak muda. Industri rokok memiliki dana yang nyaris tidak terbatas untuk melakukan promosi produknya. Karena kegiatan ini adalah nyawa industry rokok untuk memastikan ia mendapatkan pelanggan baru yang akan bertahan dalam jangka waktu yang lama, bisa puluhan tahun.

Iklan juga memastikan industry bisa menyembunyikan indentitas sebagai penyebab sakit dan kematian dengan menanamkan citra positif seperti petualangan, gaya hidup dan kreatifitas. Sehingga melakukan pelarangan terhadap segala bentuk promosi adalah setengah langkah untuk mengurangi perilaku merokok di masyarakat.

Pelarangan ini juga harus dilakukan secara total karena pelarangan sebagian hanya akan mendorong industri rokok untuk fokus pada media lain yang tidak dilarang.

  1. Bantuan Berhenti Merokok

Terakhir intervensi untuk mengurangi permintaan konsumsi rokok adalah dukungan upaya bantuan berhenti merokok. Sebagian besar perokok tahu bahaya merokok dan ingin berhenti. Namun berhenti merokok sendirian tanpa bantuan orang lain adalah sesuatu yang sulit. Bahkan lebih sulit daripada berhenti dari konsumsi zat lain. Oleh karena itu perokok yang ingin berhenti dari kebiasaan buruknya perlu dukungan.

Beberapa regulasi di atas sudah terbukti bisa mengendalikan konsumsi rokok, terutama di negara-negara maju. Lebih jauh, beberapa paket kebijakan ini sudah diadopsi oleh WHO dan disepakati oleh banyak Negara sebagai best practice dalam penanggulangan masalah merokok. Bahkan pendekatan ini sudah diadopsi menjadi traktat internasional dengan nama Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Hingga tahun 2014 sudah 180 negara yang menjadi pihak dalam perjanjian tersebut dan bekerjasama untuk menanggulangi masalah rokok.

Bagaimana pengalaman anda?

Pendekatan yang disebutkan di atas baru sebagian dari berbagai best practice yang bisa dilakukan untuk menanggulangi masalah rokok. Masih banyak yang bisa dilakukan seperti dengan pendekatan kultural atau personal.

Semua orang bisa berkontribusi dalam masalah ini. Bagaimana dengan anda? Apakah yang sudah dilakukan di lingkungan anda untuk mengatasi masalah rokok? Mari kita diskusikan dalam komentar di bawah ini.

credit image dari Erin @ Flickr

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.