Rokok Gerbang Narkoba

Rokok Sebagai Pintu Gerbang Narkoba

Dalam tatanan hukum Indonesia, tembakau dikategorikan sebagai bagian dari zat adiktif seperti disebutkan dalam UU kesehatan pasal 112-115. Pengelompokkan tembakau sebagai zat adiktif membawa konsekuensi bahwa seharusnya pengaturan rokok disamakan dengan zat adiktif lainnya seperti minuman keras.

Lebih jauh lagi BNN bahkan memasukkan rokok sebagai salah satu bahan adiktif yang termasuk Narkoba (Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif). Nikotin yang merupakan salah satu bagian dari rokok adalah jenis zat psikotropika stimulant. Lebih lanjut sikap BNN bisa dicek dalam artikel Rokok Gerbang Narkoba.

Kaitan antara rokok dan narkoba dalam bahasa ilmiah dikenal dengan istilah gateway drugs.

Baca juga  Bahaya Perokok Pasif Pada Dewasa, Anak & Bayi


Apa itu Gateway Drugs?

Dalam penanggulangan Narkoba memang dikenal istilah gateway drugs atau pintu gerbang narkoba. Gateway drugs adalah zat adiktif yang menjadi pembuka atau pendorong untuk mengkonsumsi jenis lain yang lebih berat. Gateway Drugs biasanya adalah zat yang murah dan mudah didapatkan. Dalam banyak studi dua zat yang sering disebut sebagai gateway drugs adalah rokok dan alkohol.

Untuk kriteria murah dan dan mudah mendapatkannya, rokok memenuhi semua kriteria. BNN menyebutkan bahwa rokok merupakan narkoba termurah yang dijual bebas. Dengan uang Rp. 1.000 atau bahkan Rp. 500 kita dapat dengan mudah membeli rokok yang mengandung 7000 zat kimia yang 70 diantaranya adalah penyebab kanker. Tidak ada produk farmasi lain yang mengandung kandungan berbahaya yang dijual bebas dan semurah rokok.

Rokok sebagai Pintu Gerbang Narkoba

Meski tidak ada jaminan bahwa seseorang yang menggunakan alkohol dan rokok akan menggunakan obat-obatan lain yang lebih beracun dan lebih berbahaya seperti metamfetamin, kokain, atau heroin namun hubungannya sangat erat. Kebanyakan pecandu obat-obatan kelas berat biasanya memulai dari gateway drugs; sangat sedikit pecandu narkoba yang langsung melompat ke obat keras.

Sebuah data survey nasional di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 90% pecandu kokain berusia 18 -34 tahun sudah terlebih dahulu merokok, sebelum mereka mulai menggunakan kokain. Data dari dari Departemen Pendidikan Amerika Serikat, menyatakan bahwa penggunaan tembakau dapat dikaitkan dengan penggunaan alkohol dan penggunaan narkoba. Pada umumnya obat-obatan yang digunakan oleh anak muda secara berurutan meliputi tembakau, alkohol, ganja, dan narkoba yang lebih berat.

Menurut statistik dari Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC) di Atlanta, semakin muda seorang anak mulai merokok, maka semakin berat ia akan kecanduan. Departemen Pendidikan AS juga menemukan hasil yang sama dengan yang didapat CDC. Dalam laporan berjudul, “Pemuda dan Tembakau,” mereka menemukan bahwa anak yang mulai merokok pada usia dini lebih mungkin untuk mengembangkan tingkat kecanduan nikotin yang lebih parah daripada mereka yang mulai pada usia lanjut.

Penggunaan tembakau juga merupakan pintu gerbang untuk perilaku negatif lainnya, tidak hanya konsumsi obat-obatan berbahaya. Perokok juga lebih cenderung terlibat perkelahian, membawa senjata, usaha bunuh diri, dan terlibat dalam perilaku seksual berisiko tinggi.




 

Bukti dari Penelitian

Model gateway drugs ini berdasarkan kepada hasil penelitian epidemiologis yang menunjukkan bahwa sebagian besar pecandu menggunakan alkohol atau produk tembakau sebelum mereka menjadi pecandu narkoba. Model ini menimbulkan kontroversi selama bertahun-tahun, terutama terkait dengan apakah paparan zat awal (nikotin, alkohol dan marijuana) terkait secara sebab akibat dengan konsumsi zat selanjutnya.

Studi terdahulu menemukan bahwa kokain memodifikasi struktur DNA dengan melalui proses yang disebut histone acetylation. Namun penelitian-penelitian tersebut belum mampu menunjukkan mekanisme biologis bahwa paparan nikotin dalam meningkatkan kerentanan terhadap konsumsi narkoba.

Hingga pada tahun 2011 muncullah sebuah percobaan terhadap tikus menunjukkan bahwa produk tembakau bisa menjadi gateway drugs. Penelitian tersebut menemukan bahwa nikotin menyebabkan otak lebih rentan untuk kecanduan kokain.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Eric Kandel, oleh para peneliti dari Columbia University, New York City ini dimuat dalam Science Translational Medicine edisi 2 november 2011. Penelitian menemukan bahwa tikus yang mendapatkan minuman berisi nikotin minimal selama 7 hari menunjukkan respon yang meningkat terhadap kokain.

Efek penerimaan ini berdasarkan pada kemampuan nikotin untuk mengubah sturuktur molekul DNA, memprogram ulang pola ekpsresi dari gen tertentu, terutama gen FosB yang terkait dengan adiksi dan pada akhirnya mengubah respon perilaku terhadap kokain. Pengetahuan belum dapat dibuktikan dalam penelitian-penelitian sebelumnya.

Dalam penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat ekspresi gen FosB di pusat otak terkait dengan kecanduan kokain. Dalam penelitian terbaru, peneliti menemukan bahwa pemberian nikotin selama 7 hari menyebabkan peningkatan ekspresi FosB hingga 61%. Saat diberikan satu dosis kokain, tikus-tikus ini mengalami peningkatan ekspresi FosB hingga 74% dibanding tikus lain yang hanya di beri kokain.

Untuk menguji apakah hasil penelitian ini parallel dengan penemuan pada manusia, para peneliti menguji kembali data statistic tahun 2003 National Epidemiological Study of Alcohol Related Consequences untuk melihat kaitan antara penggunaan nikotin dengan ketergantungan terhadap kokain. Mereka menemukan bahwa tingkat ketergantungan pecandu yang merokok dulu baru menggunakan kokain lebih tinggi daripada pecandu yang menggunakan kokain dulu baru merokok.

Kandel menyatakan bahwa model nikotin sebagai gateway drugs dari penelitiannya, memungkinkan kita untuk mengeksplorasi mekanisme molekuler dimana alkohol dan ganja bisa saja berlaku sebagai gateway drugs. Dia juga mengatakan bahwa mereka tertarik untuk mengetahui apakah ada satu mekanisme umum untuk semua gateway drugs atau apakah masing-masing obat memiliki mekanisme yang berbeda.

Temuan ini menunjukkan bahwa jika nikotin memiliki efek yang serupa pada manusia, upaya pencegahan merokok yang efektif tidak hanya akan mencegah konsekuensi kesehatan negatif yang terkait dengan merokok, tetapi juga bisa menurunkan risiko pengembangan dan kecanduan kokain dan penggunaan narkoba lainnya. Model ini juga menyediakan mekanisme baru untuk mempelajari teori gateway drugs dari perspektif biologis.


 

Solusi

Jika ingin melakukan penanggulangan narkoba maka penurunan konsumsi gateway drugs juga bisa menjadi sebuah solusi. Salah satunya adalah dengan melakukan kampanye anti rokok kepada anak-anak muda. Di Amerika Serikat sebuah jajak pendapat Gallup menemukan bahwa 75 persen dari siswa yang pernah mengikuti program penyuluhan anti narkoba tidak pernah mencoba merokok.

Hal lain yang berpengaruh juga adalah sikap dari orang tua. Meskipun program pencegahan narkoba dan pendidik dapat menjelaskan mengapa tembakau (dan obat gerbang lainnya) dapat memiliki dampak jangka panjang pada kehidupan anak-anak jika mereka menggunakannya, namun orangtua memiliki pengaruh utama.

Pesan anti-rokok untuk anak Anda harus mulai awal dan diperkuat secara teratur.

  • Fokus pada konsekuensi jangka pendek dan efek pada penampilan.
  • Jelaskan bahwa pada akhirnya konsumsi rokok akan membuat sakit.
  • menggunakan lembar fakta dari program anti narkoba
  • Temukan cara-cara kreatif untuk menggambarkan bahaya penggunaan tembakau.
  • Hentikan kebiasaan merokok Anda atau sembunyikan dari hadapan mereka
  • Berikan pengertian bahwa asap rokok itu berbahaya, dan anak-anak seharusnya tidak bergaul dengan perokok.
  • Diskusikan pesan-pesan iklan dan media yang mempromosikan merokok.
  • Jelaskan apa artinya ketagihan merokok.

Disamping sikap orang tua namun yang lebih berpengaruh juga adalah membuat situasi lingkungan yang mendukung (enabling environtment). Yaitu dengan melakukan pengendalian secara menyeluruh dan komprehensif dengan berbagai kebijakan yang sudah terbukti berhasil seperti intervensi harga, kawasan dilarang merokok, pelarangan iklan, bantuan berhenti merokok dan kebijakan lainnya.

Rokok adalah salah satu pintu gerbang narkoba dan  bisa mendorong orang untuk mengkonsumsi narkoba sehingga langkah pertama untuk menghindarinya adalah dengan tidak mencoba menggunakannya sama sekali.

Sumber : DARE dan BNN

Image credit dari sini

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.